Cabai keriting (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta peran strategis dalam sektor pertanian dan perdagangan. Tanaman ini tidak hanya menjadi bagian penting dalam konsumsi rumah tangga, tetapi juga berkontribusi besar terhadap pendapatan petani dan stabilitas ekonomi daerah. Artikel ini akan membahas nilai ekonomis cabai keriting dalam konteks produksi, distribusi, serta peranannya dalam pembangunan agribisnis.
KLAFISIFIKASI TUMBUHAN
| Kingdom | : | Plantae |
| Divisi | : | Magnoliophyta (Angiospermae / tumbuhan berbunga) |
| Kelas | : | Magnoliopsida (dikotil) |
| Ordo | : | Solanales |
| Famili | : | Solanaceae |
| Genus | : | Capsicum |
| Spesies | : | Capsicum annuum |
CIRI-CIRI MORFOLOGIS
Cabai keriting merupakan tanaman semusim berbentuk perdu yang dapat tumbuh hingga ketinggian 50–150 cm, tergantung varietas dan kondisi lingkungan. Sistem perakarannya berupa akar tunggang yang bercabang dengan akar lateral menyebar di dalam tanah. Batangnya tegak, berbentuk silindris, berwarna hijau hingga kehijauan tua, dan bercabang banyak dengan percabangan simpodial. Daunnya tunggal, bertangkai, berbentuk lonjong hingga lanset dengan ujung meruncing, permukaan halus, dan berwarna hijau. Bunganya tumbuh tunggal atau berpasangan di ketiak daun, berwarna putih dengan mahkota berbentuk bintang. Buah cabai keriting berbentuk panjang dan ramping dengan permukaan bergelombang atau keriting, berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi merah cerah saat matang. Di dalam buah terdapat banyak biji kecil berbentuk pipih berwarna kekuningan yang melekat pada plasenta.
MANFAAT
Cabai keriting memiliki berbagai manfaat baik dari segi kesehatan maupun ekonomi. Secara kesehatan, buahnya mengandung senyawa capsaicin yang memberikan rasa pedas serta memiliki sifat antioksidan dan membantu meningkatkan metabolisme tubuh. Kandungan vitamin C, vitamin A, dan flavonoid dalam cabai juga berperan dalam menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan kulit. Dalam kehidupan sehari-hari, cabai keriting menjadi bumbu utama dalam berbagai masakan Nusantara dan bahan baku industri makanan seperti sambal, saus, dan bubuk cabai. Dari sisi ekonomi, komoditas ini menjadi sumber pendapatan penting bagi petani serta memiliki nilai jual yang tinggi di pasar domestik, sehingga berkontribusi terhadap perputaran ekonomi sektor hortikultura.
REFRENSI
- Bosland, P. W., & Votava, E. J. (2012). Peppers: Vegetable and Spice Capsicums (2nd ed.). Wallingford: CABI Publishing.
- Wahyuni, Y., Ballester, A. R., Sudarmonowati, E., Bino, R. J., & Bovy, A. G. (2011). Secondary metabolites of Capsicum species and their importance in the human diet. Journal of Natural Products, 74(3), 469–476.
- Howard, L. R., Talcott, S. T., Brenes, C. H., & Villalon, B. (2000). Changes in phytochemical and antioxidant activity of selected pepper cultivars (Capsicum annuum) as influenced by maturity. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 48(5), 1713–1720.
- Syukur, M., Sujiprihati, S., & Yunianti, R. (2015). Teknik Pemuliaan Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.
- Direktorat Jenderal Hortikultura. (2023). Produksi Cabai di Indonesia. https://hortikultura.pertanian.go.id Diakses pada Hari Selasa, tanggal 4 Maret 2026.
PENULIS
Luthfan
Rafael
Razqa
Grafisa
Nesta
Sena
X-C 2005/2006